No comments yet

Voice of Migrant (VOM) Mengajak PMI Bijak Bermedia Agar Selamat di Perantauan

Voice of Migrants (VOM) Hong Kong menyelenggaran syukuran dengan tumpengan dan membuat Diskusi Publik yang bertemakan Bijak Bermedia Sosial. Acara tersebut diselenggaran pada Minggu (27/10/2019) di Grand Building, Connaught Road, Central, Hong Kong. Inilah perhelatan perdana Kelompok Kerja (Pokja) VOM gabungan dari berbagai organisasi PMI untuk terlibat dalam upaya pelindungan bagi PMI di Hong Kong.

Dalam sambutan pembukanya, Icha Fael, sebagai Ketua Pokja VOM, menegaskan bahwa Pokja VOM ingin merangkul siapa saja untuk bekerjasama dalam mengembangkan kapasitas teman-teman PMI, terutama terkait dengan pelindungan hak-hak pekerja migran. Dalam konteks itulah, VOM mulai bergerak untuk mengorganisir diri. Khususnya, sebagai wadah bagi PMI Hong Kong yang memiliki semangat dan kehendak yang kuat untuk menyebarkan informasi, pengetahuan dan cara-cara yang tepat dalam pelindungan PMI.

“Lewat diskusi publik ini, Pokja VOM akan menjadikan ruang bagi para PMI di Hong Kong untuk melakukan pembelajaran bersama tentang pengorganisasian dan berbagi informasi yang bisa menumbuhkan semangat solidaritas,” jelas Icha.

Manfaatkan Teknologi untuk Lindungi PMI

Diskusi publik yang dilakukan merupakan rangkaian dari kegiatan Pokja VOM untuk mengajak PMI di Hong Kong untuk melek literasi media sosial. Begitu mudahnya orang zaman sekarang, tak terkecuali PMI, bisa mengakses berbagai informasi hanya dengan memencet tombol di berbagai produk gawai yang terhubung dengan internet.

Handphone (HP) sudah menjadi salah satu alat pelengkap untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang tidak pernah lepas dari saku atau genggaman tangan kita. Dunia seolah tidak lagi menjadi begitu luas.

Segala informasi yang kita inginkan untuk diketahui hanya dalam hitungan detik sudah muncul di hadapan mata kita. Saat kita mau berkomunikasi dengan keluarga, teman dekat, dan juga orang yang sebelumnya tidak kita kenal di berbagai tempat di belahan bumi ini, kita tinggal mencari (browsing) dan menemukan di media sosial. Dampak hadirnya gawai sebagai alat komunikasi benar-benar telah menjadi “jantung dan nadi” baru dalam kehidupan komunikasi manusia modern.

Dunia sudah berubah dengan hadirnya gawai dan teknologi internet. Tidak mau ketinggalan dengan majunya dunia gawai dan internet, maka KJRI Hong Kong pun membuka banyak layanan dengan menggunakan sistem online.

Menurut Yuni Suryati, Konsul Informasi dan Sosial Budaya KJRI, pengembangan layanan KJRI yang berbasiskan teknologi internet. Materi yang disampaikan oleh Yuni Suryati sangat menarik perhatian bagi para PMI yang hadir dalam diskusi publik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa akses informasi PMI terhadap layanan KJRI belum secara luas diterima oleh PM di Hong Kong. Maka setiap kali ada perwakilan KJRI memberikan informasi tentang layanan bagi PMI, antusiasme PMI untuk bertanya begitu membuncah. Diskusi public menjadi ruang yang positif bagi Pokja VOM untuk menggandeng KJRI dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Mengapa? Karena KJRI adalah aktor utama dalam usaha pelindungan hak PMI di Hong Kong.

Belajar Sehat Bermedia, Agar Selamat di Perantauan

Sejalan dengan tema diskusi publik, Yuni mengajak para peserta untuk aktif mengakses Facebook (FB) KJRI Hong Kong. Sampai saat ini jumlah follower facebook (fb) KJRI sudah mencapai 172.942. KJRI saat ini juga terus berusaha meningkatkan pelindungan dan pelayanan WNI di Hong Kong dengan sistem online, seperti layanan paspor, kontrak kerja, legalisasi, informasi tentang agen dan majikan, informasi layanan tentang WNI yang sakit dan meninggal, bantuan hukum dan lain sebagainya. Dalam mengakhiri presentasinya, Yuni mengajak para peserta untuk membiasakan diri untuk saring sebelum sharing di media sosial.

Acara diskusi publik yang dimoderatori oleh Anil Husnaini dari MIC ini berjalan dengan cukup memancin antusiasme peserta. Setelah usai tanya jawab antara peserta dengan perwakilian KJRI. Sesi berikutnya difasilitasi oleh Muhammad Irsyadul Ibad (Ibad), Direktur Infest Yogyakarta, untuk diskusi tentang “Sehat Bermedia Sosial: Selamat di Negara Penempatan”.

Dalam memulai sesi diskusi, Ibad mengajak peserta untuk memahami cara kerja media sosial (Medsos) dengan cepat, mudah diakses dan anonim. Tentu saja, selain memajukan kehidupan manusia saat ini, media sosial juga berkontribusi dalam “menghancurkan” tata kehidupan manusia.

“Perang di Suriah, salah satunya terjadi akibat dari Medsos yang digunakan untuk menebar berita hoaks. Tentu saja, peristiwa di Suriah harus dijadikan pembelajaran bersama bahwa kita harus bijak menggunakan media sosial,” papar Ibad.

Ibad juga menambahkan bahwa dalam konteks terjadinya gerakan ekstremisme kekerasan, propaganda yang juga dilakukan melalui Medsos. Oleh karena itu, penting sekali PMI mulai terbuka dan sadar pada gejala tersebut, sebagai langkah preventif untuk menjaga diri dari paparan ekstremisme kekerasan. Sehingga, PMI dapat selamat dari ancaman dari paparan radikalisme yang juga sudah merasuki dalam kehidupan para PMI di Hong Kong.

=====

*Pembelajaran ini ditulis oleh Dedi Kristanto, Program Officer (PO) Infest di Hong Kong, berdasarkan proses pembelajarannya bersama komunitas PMI di Hong Kong.

Post a comment

You must be logged in to post a comment.